Sunday, January 8, 2017

HUTANG ITU SIFATNYA BERTAMBAH DAN BERTAMBAH. PERCAYA???

Sebagian orang mungkin percaya bahwa kebiasaan berhutang itu memiliki sifat bertambah dan bertambah terus, namun pasti ada yang mempercayai hal sebaliknya.

Tema hutang, apalagi hutang riba, merupakan lahan diskusi yang mungkin tak pernah habis selama manusia hidup di dunia. Selalu ada yang pro dan kontra. Nyatanya, lembaga keuangan yang memfasilitasi hutang masih eksis di dunia ini.
Ini bukan artikel untuk menyudutkan salah satu pihak manapun. Yang idealnya merasa tersudut ialah diri kita sendiri. Ini bahan instrospeksi diri. Semoga kita berkenan menyimak tulisan dan video ini secara tenang dan santai.
Mengerucut ke dunia usaha. Bagaimana jadinya ketika memulai usaha berbekal hutang ke lembaga keuangan?
Padahal untuk memulai usaha, tak melulu modal uang yang konon katanya sebagai kendala bisnis, yakni ada beragam ide kreatif untuk memulai wirausaha. Bisa bernegosiasi, bisa patungan dengan kawan, dan lain sebagainya. Tergantung kitanya sebagai pelaku usaha, mau memanfaatkan sisi kreatifitas dan mengasahnya atau hanya berpedoman kepada uang sebagai modal usaha semata.
Kembali ke pokok bahasan, sudah tahukah perbedaan antara hutang biasa dan hutang yang mengandung unsur riba?
Tahu apa akibatnya berhutang riba?
Secara logis, permasalahan hutang ini berbahaya, dan bisa diukur.
Ketika seseorang mulai berhutang, lalu terbiasa berhutang. Awalnya mungkin untuk usaha produktif, lalu tergiur mulai melakukan aktifitas konsumsi dari hasil hutangnya.
Setelah terbiasa mengonsumsi dari hasil hutang, lalu terus-menerus menambah hutang.
Seakan harta yang dipunya ialah benar-benar harta hasil bisnisnya. Padahal ia lupa bahwa harta yang dimiliki ternyata dari hasil berhutang. Asetnya yang bernilai ratusan, milyaran bahkan triliunan, ternyata adalah hasil berhutangnya.
Setiap bulan ia berkewajiban melunasi pokok hutang beserta bunganya. Siang-malam yang terpikir hanya bagaimana cara melunasi kewajiban bulanan.
Ketenangan usaha mulai terganggu. Fokus berbisnis yang katanya untuk kebermanfaatan masyarakat sekitar mulai bergeser. Yang penting target cicilan bulanan terpenuhi.
Tak terasa usaha mulai goyah. Cicilan bulanan mulai tersendat. Debt Collector mulai rajin menyambangi ke rumahnya. Anak-anaknya mulai takut terhadap Debt Collector. Trauma berkepanjangan terhadap perilaku yang di luar batas kewajaran bertamu.
Silakan simak hal yang paling mengerikan dari aktifitas berhutang riba.
Hal yang ditanggung dunia-akhirat.
Belajar tak harus mengalami langsung, bisa saja belajar dari pengalaman orang lain.
Kali ini, Saptuari Sugiharto membagikan kisahnya yang dulu pernah berinteraksi dengan hutang riba.
Bersiaplah bertambah ilmu...
Semoga kita mau belajar dari kisah beliau...
Hanya Allah yang berhak memberikan hidayah kebaikan kepada siapapun yang DIA kehendaki.
Semoga kita senantiasa dilindungiNYA dari perbuatan yang merusak masa depan kita dan keluarga kita. Aaaamiin...

Allahu Akbar!

Sumber : Facebook Saptuari Sugiharto

No comments:

Post a Comment